4 Feb 2018

Februari 04, 2018
🆔 Group WA HSI AbdullahRoy
🌐 hsi.abdullahroy.id
════ ❁✿❁ ════
📘 Silsilah Ilmiyyah Pengagungan Terhadap Ilmu
🔊 Halaqah 01-05 ~ Pengagungan Terhadap Ilmu

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah, wasshalatu wasssalamu 'ala rasulillah wa 'ala alihi washahbihi ajma'in

Halaqah yang ke 1-5 dari muqaddimah Halaqoh Silsilah 'Ilmiyyah "Pengagungan terhadap Ilmu"

     Telah berkata guru kami yang mulia, syaikh DR Shalih bin Abdillah Ibn Hamd Al Ushaimi hafizhahullah di dalam muqaddimah kitab beliau, khulaashotu ta'dzimil ilmi bahwa :

     "Banyak sedikitnya ilmu seseorang adalah sesuai dengan pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri. Barang siapa hatinya penuh pengangungan terhadap ilmu maka hati tersebut pantas menjadi tempat bagi ilmu tersebut. Sebaliknya, barang siapa yang berkurang pengangungannya terhadap ilmu maka akan semakin berkurang bagiannya."

     Kemudian beliau menyebutkan 20 perkara yang merupakan bentuk pengagungan terhadap ilmu, diantaranya,

1. Membersihkan tempat ilmu yaitu hati
     Apabila hati kita bersih, maka ilmu akan berkenan masuk. dan semakin bersih semakin mudah menerima ilmu tersebut. Dan hal yang mengotori hati yang menyebabkan ilmu sulit masuk yaitu kotoran syahwat dan kotoran syubhat.

2. Mengikhlaskan niat karena Allah dalam menuntut ilmu
     Sesuai dengan keikhlasan seseorang maka ia kan mendapat ilmu yaitu apabila niatnya untuk

  1. Mengangkat kebodohan dari diri sendiri
  2. Mengangkat kebodohan dari  orang lain
  3. Mmenghidupkan ilmu dan menjaganya agar tidak punah, dan
  4. Mmengamalkan ilmu

3. Mengumpulkan tekad untuk menuntut ilmu, meminta kepada Allah, dan tidak merasa lemah
     Sebagaimana dalam hadist,

اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

    "hendaklah engkau semangat melakukan segala yang bermanfaat untuk dirimu dan memohon pertolongan kepada Allah dan janganlah engakau merasa lemah."
(HR Muslim).

    Dahulu Imam Ahmad terkadang ingin keluar dari rumahnya untuk menghadiri majlis ilmu gurunya sebelum datang waktu shubuh dan sebagian mereka membaca shahih bukhari kepada gurunya dalam 3 majelis/pertemuan. ini semua menunjukkan bagaiman semangat dan tekad pendahulu kita dalam menuntut ilmu.

4. Memusatkan semangat untuk mempelajari Alquran dan Alhadist 
     Karena inilah asal dari ilmu itu sendiri.

5. Menempuh jalan yang benar didalam menuntut ilmu agama

     Orang yang salah cara di dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan keinginannya atau mendapatkan sedikit disertai rasa lelah yang sangat. dan cara yang benar di dalam mempelajari 1 cabang ilmu
     Dengan menghafal sebuah matan kitab yang menyeluruh dan dia mengumpulkan perkara-perkara yang raajih/yg dikuatkan menurut ulama di bidang tersebut.
     Mempelajari ilmu dari orang yang ahli yang bisa dijadikan teladan dan dia mampu mengajar.

6. Mendahulukan ilmu yang paling penting kemudian yang setelahnya dan setelahnya
     Ilmu yang paling penting yaitu ilmu yang berkaitan dengan ibadah seseorang kepada Allah dan ilmu yang paling penting adalah ilmu yang berkaitan dengan ubudiyah seseorang kepada Allah seperti ilmu aqidah, tatacara wudlu, cara shalat, dll.

7. Bersegera untuk mendapatkan ilmu dan memanfaatkan waktu muda 
    Karena waktu muda merupakan waktu emas untuk mempelajarai ilmu agama. berkata Al-Hasan Al-Bashri :

العلمُ في الصِغَرِ كالنَقْشِ في الحَجَر

    "menuntut ilmu diwaktu kecil seperti mengukir di batu"

     Adapun apabila sudah tua kebanyakan manusia memiliki banyak kesibukan, pikiran dan memiliki banyak koneksi. jika dia bisa mengatasi itu semua maka insyaallah dia mendapatkan ilmu. Para sahabat nabi dahulu mempelajari agama dan mereka sudah berumur.

8. Pelan-pelan dalam menuntut ilmu
   Karena menuntut ilmu tidak bisa dilakukan serta merta sekali jalan akan tetapi ilmu diambil perlahan dimulai dari kitab-kitab yang ringkas, menghafal dan memahami maknanya dan jangan kita memulai menuntut ilmu dengan membaca kitab-kitab yang panjang.

9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu
   Menghafal membutuhkan kesabaran. Memahami membutuhkan kesabaran. Menghadiri majelis ilmu membutuhkan kesabaran. Demikian pula menjaga hak seorang guru membutuhkan kesabaran.

     Berkata Yahya Ibnu Abi Katsiirin:

لَايُسْتَطَاعُ العِلمَ بِرَاحَةِ الجِسم

"tidak didapatkan ilmu dengan badan yang berleha-leha" 

    Demikian pula menyampaikan dan mengajarkan perlu kesabaran duduk bersama para penuntut ilmu perlu kesabaran, memahamkan mereka perlu kesabaran, demikian pula menghadapi kesalahan-kesalahan mereka perlu kesabaran.

10. Memperhatikan adab-adab ilmu 
   Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab dan adab disini mencangkup adab terhadap diri di dalam pelajaran, terhadap guru dan teman, dan lain-lain.
     Orang yang beradab di dalam ilmu berarti dia mengagungkan ilmu maka dia dipandang sebagai orang yang berhak untuk mendapatkan ilmu tersebut. Adapun orang yang tidak beradab, maka dikhawatirkan ilmu akan sia-sia bila disampaikan kepadanya.

     Berkata Ibn Sirin:

كَانُوْا يَتَعَلَّمُوْنَ الهَدْيَ كَمَا يَتَعَلَّمُوْنَ العِلْمًا

"Dahulu mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu"

    Bahkan sebagian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu dan banyak diantara para penuntut ilmu yang tidak mendapatkan ilmu karena dia menyia-nyiakan adab.

11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya
    Hendaknya seorang penuntut ilmu menjaga wibawanya karena apabila dia melakukan sesuatu yang merusak wibawanya sebagai seorang penutut ilmu berarti dia telah merendahkan ilmu, seperti terlalu bnyak menoleh di jalan, berteman akrab dengan orang-orang fasiq dan lain-lain.

12. Memilih teman yang salih
      Seorang penuntut ilmu perlu teman yang membantu untuk mendapatkan ilmu dan bersungguh-sungguh, teman yang tidak baik akan memberi pengaruh yang tidak baik

      Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الرَِّجَالُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مِنْ يُخَالِل

"Seorang berada diatas agama teman akrabnya maka hendaknya seseorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman akrab." (HR hasan riwayat Abu Daud dan At-tirmidzi).

13. Berusaha keras di dalam menghafal ilmu, bermudzakaroh, dan bertanya
    Belajar dari seorang guru tidak banyak manfaatnya jika tidak menghafal, bermudzakaroh dan bertanya.
     -menghafal berkaitan dengan diri sendiri.
     -bermudzakaroh adalah mengulang kembali bersama teman.
     -dan bertanya maksudnya adalah bertanya kepada sang guru.

     Berkata syaikh 'utsaimin Rahimahullah :

حَفِظنَا قَلِيْلًا وَقَرَأْنَا كَثِيْرًا فَانْتَفَعْنَا بِمَا حَفِظْنَا أَكْثَرَ مِنْ اِنْتِفَاعِنَا بِمَا قَرَأْنَا 

"kami menghafal sedikit dan membaca banyak maka kami mengambil manfaat dari apa yang kami hafal lebih banyak dari pada apa yang kami baca" 

     Dan dengan mudzakaroh akan hidup ilmu di dalam jiwa dan dengan bertanya, akan terbuka perbendaharaan ilmu.

14. Menghormati ahli ilmu
     Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda

  لَيْسَ مِنْ أُمَّتِيْ مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ مِنْ عَالِمِنَا حَقَّهُ  

"Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda dan mengetahui hak bagi seorang 'alim."

(Hadist Hasan diriwayatkan Al Imam Ahmad dalam musnad beliau)

maka seorang murid harus memiliki memiliki rasa tawadhu' kepada gurunya
menghadap beliau dan tidak menoleh
menjaga adab berbicara
tidak berlebih-lebihan di dalam memuji beliau
mendoakan beliau
mengucapkan terimakasih kepada beliau atas pengajaran beliau
menampakkan rasa butuhnya terhadap ilmu beliau
tidak menyakiti dalam ucapan dan perbuatan,
serta berlemah lembut ketika mengingatkan kesalahan beliau
disana ada 6 perkara yang harus dia jaga apabila melihat kesalahan seorang guru:
  1. meneliti terlebih dahulu apakah benar kesalahan tersebut keluar dari seorang guru?. 
  2. meneliti apakah itu memang sebuah kesalahan? dan ini adalah tugas ahlul ilmi. 
  3. tidak boleh mengikuti kesalahan tersebut. 
  4. memberikan udzur kepada guru dengan alasan yang benar. 
  5. memberikan nasihat dengan lembut dan rahasia.
  6. menjaga kehormatan seorang guru dihadapan kaum muslimin yang lain.

15. mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahlinya
     orang yang mengagungkan ilmu mengembalikan sebuah permasalahan kepada ahli ilmu dan tidak memaksakan dirinya atas sesuatu yang dia tidak mampu karena dikhawatirkan takut berbicara tanpa ilmu khususnya peristiwa-peristiwa yang besar yang terjadi, yang berkaitan dengan urusan umat dan orang banyak. Mereka para ulama memiliki ilmu dan pengalaman. maka hendaklah kita berhusnudzon kepada mereka dan apalbila ulama berselisih maka lebih hati-hatinya seseorang mengambil ucapan mayoritas mereka.

16. Menghormati majelis ilmu dan kitab
     Hendaklah beradab ketika bermajelis melihat kepada gurunya dan tidak menoleh tanpa keperluan.
tak banyak bergerak memainkan tangan dan kakinya.
tidak bersandar di hadapan seorang guru, tidak bersandar dengan tangannya
tidak berbicara dengan yang ada disampingnya
dan apabila bersin berusah merendahkan suaranya
apabila menguap berusah meredamnya atau menutup dengan mulutnya
dan hendaknya juga menjaga kitab dan memuliakannya.
tidak menjadikan kitab sebagai tempat simpanan barang-barang
tidak bersandar diatas kitab
tidak meletakkan kitab dikakinya
     Dan apabila membaca kitab dihadapan seorang guru hendaklah dia mengangkat kitab tersebut dan tidak meletakkan kitab tersebut di tanah.

17. Membela ilmu dan menolongnya
     Ilmu memiliki kehormatan yang mengharuskan penuntutnya dan ahlinya untuk membela dan menolongnya bila ada yang berusaha untuk merusaknya. oleh karena itu para ulama membantah orang yang menyimpang bila jelas penyimpangannya dari syariat siapapun dia. yang demikian untuk menjaga agama dan menasihati kaum muslimin. mereka memboikot seorang mubtadi' yaitu orang yang membuat bid'ah dalam agama, tidak mengambil ilmu dari mereka kecuali dalam keadaan terpaksa dll. semuanya dilakukan untuk menjaga ilmu dan membelanya.

18. Berhati-hati dalam bertanya kepada para ulama
     Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan 4 perkara di dalam bertanya:
  1. Bertanya untuk belajar, bukan ingin mengeyel, karena orang yang niatnya tidak baik di dalam bertanya akan dijauhkan dari berkah ilmu itu sendiri.
  2. bertanya tentang sesuatu yang bermanfaat.
  3. melihat keadaan gurunya, tidak bertanya kepada sang guru apabila guru dalam keadaan tidak kondusif untuk menjawab pertanyaan.
  4. memperbaiki cara bertanya seperti menggunakan kata-kata yang baik,  mendoakan untuk sang guru sebelum bertanya, menggunakan panggilan penghormatan, dll.
19. Cinta yang sangat terhadap ilmu
     Tidak mungkin seseorang mencapai derajat ilmu kecuali apabila kelezatan dia yang paling besar ada di dalam ilmu, dan kelezatan ilmu bisa didapatkan dengan 3 perkara:
  1. mengeluarkan segena tenaganya dan kesungguhannya untuk belajar
  2. kejujuran didalam belajar
  3. keihlasan niat
20. Menjaga waktu di dalam ilmu
    Seorang penutut ilmu tidak menyianyiakan waktunya sedikitpun. menggunakan waktu untuk ibadah, dan mendahulukan yang afdhal diantara amalan-amalan. sebagian salaf dahulu ada yang muridnya membaca kitab kepada beliau sedangkan beliau dalam keadaan makan. yang demikian untuk menjaga waktunya jangan sampai tersia-sia dari menuntut ilmu.
   
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya 

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A di kota Pandeglang.
════ ❁✿❁ ════
🗳 Donasi Operasional dan Pengembangan Dakwah
Group HSI AbdullahRoy
| Bank Mandiri Syariah [Kode Bank 451]| No. Rek : 7109713408
| Atas Nama : HSI Abdullahroy
Mohon setelah transfer konfirmasi via whatsapp ke :  +62 815-6478-6911
Informasi dan saran:
📱 HSI-Center :  +62817-777-667
👥 Facebook : fb.com/hsi.abdullahroy
🏜 Instagram : hsi.abdullahroy
Next
This is the most recent post.
Posting Lama